Realitas Politik vs Harapan Umat
1. Jauh sebelum pendaftaran Cagub-Cawagub DKI, umat berharap hanya ada 1 saja pasangan calon yang mewakili umat Islam.
2. Lalu muncul nama-nama tokoh Islam, Yusril Ihza, Sandi Uno, Adhyaksa hingga tokoh perempuan Tri Rismaharini.
3. Penerimaan publik terhadap calon-calon tersebut kurang menggembirakan, hanya Risma yang dianggap bisa bersaing.
4. Untuk mengusung Risma harus dengan ijin Bunda Ketua, sedangkan Yusril dan Adhy selain tak punya partai, elektabilitasnya tak kunjung beranjak.
5. Lalu dimunculkan calon Alternatif, Mardani Ali Sera. Gerindra dan PKS sepakat mengusungnya.
6. Jelang pendaftaran, konstelasi makin dinamis. Jiwa ksatria dipertaruhkan. PKS merelakan kursi Cawagubnya. Prabowo pun menunjukan kenegarawanannya, tak apa Gerindra di posisi Cawagub.
7. Hingga sehari jelang penutupan pendaftaran, umat masih berharap hanya 1 pasangan Muslim yang bertanding lawan petahana.
8. Harap-harap Cemas, akhirnya 2 pasangan calon Gubernur Muslim mendaftar. Ulama saling bertanya-tanya.
9. Mengapa 2 pasang calon Muslim? Haruskah 2 pasang menantang petahana? Mari kita pandang ini sebagai realitas politik, sekaligus strategi.
10. Ahok punya beking hampir seluruh konglomerat. Saat putra SBY maju, konglomerat naga dapat dipecah, karena SBY pasti sudah berhitung, tak mungkin dia mengorbankan anaknya untuk ambisinya.
11. Suara umat Islam terpecah? Tidak juga. Justru umat akan punya banyak pilihan, 1 petahana harus dihajar oleh 2 pasang
calon dengan pasukan yang berbeda. Bila 1 pasukan dipukul mundur, dia
harus bergabung dengan pasukan muslim disebelahnya.
12. Disisi lain, hampir seluruh survey menyebut elektabilitas aHoax tidak
pernah menyentuh 50%, bahkan tren nya terus turun. Artinya, Pilkada
tidak akan 1 putaran.
13. Ini pasangan yang komplementer, saling melengkapi. Bila tak minat dengan sosok Militer, ada sosok akademisi yang telah teruji saat jadi menteri.
14. Untuk mengalahkan sosok pemimpin seperti Fir'aun yang arogan dan sombong, tak bisa berfikir linear dan terlalu lurus. Karena tikungan politik itu terjal dan berliku.
15. Yang penting, pasukan Agus-Silvy dan Anies-Sandi tak saling serang. Hajar Fir'aun bersama-sama.
16. Sungguh, Rakyat Jakarta mendamba pemimpin baru. Rakyat sudah muak dengan pemimpin bergaya Fir'aun yang arogan dan sombong.
17. Realitas Politik vs Harapan Umat, Semoga Bertemu dengan Takdir Terbaik. Masih ada ASA dari ujung Kertanegara. #
Showing posts with label anies baswedan. Show all posts
Showing posts with label anies baswedan. Show all posts
Friday, September 23, 2016
Wednesday, December 10, 2014
Melarang Doa Di Sekolah, Menteri Anies Bisa Langgar Konstitusi
Bila
benar apa yang dikatakan Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah
Anies Baswedan bahwa Kementeriannya sedang mengevaluasi
proses belajar mengajar yang selama ini berlangsung di sekolah-sekolah negeri,
yaitu sedang mengevaluasi terkait dengan tata cara membuka dan menutup proses
belajar, maka ini akan menjadi awal permasalahan besar dalam penyelenggaraan
pendidikan di Indonesia.
Anies juga
menyebutkan bahwa doa di sekolah memang menimbulkan masalah, dan menyatakan
bahwa ada keluhan sejumlah orangtua murid terhadap
tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar, sehingga membuat
siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman. Pernyataan ini dimuat di media
online detik.com saat jumpa pers di kantor Kemendikbud Jakarta, senin
1/12/2014. (Baca : Mendikbud Anies : Sekolah Negeri Promosikan SikapBerketuhanan Yang Maha Esa).
Lebih jauh lagi, Anies
bahkan menuduh sekolah-sekolah di Indonesia telah dijadikan tempat untuk
mempromosikan agama tertentu, lewat pernyataannya, "Sekolah di Indonesia
mempromosikan anak-anak taat menjalankan agama, tapi bukan melaksanakan praktik
satu agama saja."
Pernyataan ini langsung
mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan, bahkan di media sosial pernyataan
Anies ini langsung memunculkan berbagai polemik. Dai muda Ust.Yusuf Mansur
bahkan ikut mengecam pernyataan Mendikdasmen tersebut lewat akun twitternya. Salah
satu twit Ust.Yusuf berbunyi, “Saya dulu diem, dan ngebela siapapun yang
memerintah, tapi kalo sampe nyentuh udah urusan kayak doa di awal pagi di
sekolah-sekolah, males banget diem.”
Saking kesalnya,
Ust.Yusuf dalam logat khas Betawi mengungkapkan, “Besok-besok ga boleh azan
lagi nih di Masjid, sebab nunjukin dominan juga…. Selama ini toleransi dah
jalan dengan sangat damai. Yaa Allah, jahat dan bodoh amat sih mereka-mereka
ini….. aaaammmmmpuuuuuunnnnn….. asli aaaammmmmpuuuuuunnnnn
yaa Allah….. sedih, marah, ngenes….. pengen cepet-cepet pilpres baru lagi aja….
Pengen pilih yang nyata-nyata bener-bener bela agama….”
Di akhir twitnya
Ust.Yusuf berdoa, “Ya Allah berikanlah kami kekuatan-Mu agar mampu melindungi
ajaran-Mu dari mereka yang membenci agama-Mu.”
Sesungguhnya apa yang
dinyatakan Menteri Anies Baswedan, bila ia benar-benar mau menghapus doa di
sekolah-sekolah, berarti ia telah masuk kategori “melawan” konstitusi. Mari
kita lihat dan cermati UUD 1945 pasal 31 ayat 3, “Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan
dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
yang diatur dengan Undang-undang.” Konstitusi telah menyebutkan bahwa
Pendidikan di Indonesia sangat melekat dengan 3 unsur tadi, yaitu keimanan,
ketaqwaan dan akhlak mulia, dan ini diatur oleh aturan perundang-undangan
tertinggi di tanah air yaitu UUD 45.
Jadi, kalau doa yang merupakan bagian dari upaya meningkatkan keimanan
dan ketaqwaan, mau dihapus dan dilarang Pak Menteri, ini dapat mencederai
penegakan konstitusi di Indonesia.#
Subscribe to:
Posts (Atom)
